Hi, shobat ! selamat datang di Komunitas Situbondo | KARak'S. - Tentang Kami - Kontak Kami
Polling
Bagaimana Menurut Anda Kegiatan / Kiprah KARak'S Selama Ini?






Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Mau Tahu..? Kecepatan Terbang Malaikat Jibril

Komunitas Situbondo | KARak'S
Ahli Fisika dari Mesir bernama DR. Mansour Hassab El Naby berhasil membuktikan berdasarkan petunjuk Al Qur'an (QS As Sajdah:5) kecepatan cahaya dapat dihitung dengan tepat sama dengan hasil pengukuran secara ilmu fisika modern (A New Astronomical Quranic Method for The Determination of The Greatest Speed C .

Ilustrasi I

Berdasarkan QS As Sajdah ayat 5 :

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu
Secara jelas ayat tersebut memakai perbandingan bahwa satu hari sama dengan 1.000 tahun, dihitung dengan cermat ternyata sama dengan kecepatan cahaya. Pertanyaannya kemudian, petunjuk ayat ini apakah sebagai penjelas atas petunjuk ayat dalam Al Qur'an yang lain?

Apakah kecepatan cahaya merupakan yang paling cepat di jagad raya ini seperti dugaan manusia sekarang berdasarkan ilmu fisika modern? Dari beberapa ayat di dalam Al Qur'an disebutan bahwa malaikat mempunyai kecepatan terbang yang sangat cepat.

Seperti dalam QS An Naazi´aat ayat 3-4
  1. Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan
  2. Dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya [1537]
  3. Dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat4. Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang

Juga pada QS Al Mursalat ayat 1-2 dijelaskan bahwa malaikat terbang dengan kencang atau cepat:

Bagaimana malaikat terbang? Malaikat dapat terbang karena memiliki sayap, ada yang mempunyai 2, 3 atau 4 sayap.

Disebutkan pada QS Faathir ayat 1 :

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dari penjelasan tersebut dapat lebih jelas bahwa yang mampu terbang dengan kecepatan tinggi adalah malaikat. Seberapa cepat terbangnya?

Petunjuk dalam ayat tersebut sangat jelas bahwa perbandingan kecepatan terbang malaikat adalah dalam sehari kadarnya 50.000 tahun. Berdasarkan metode penghitungan yang dilakukan DR. Mansour Hassab El Naby seperti dalam tulisannya bahwa untuk satu hari yang berkadar 1.000 tahun sama dengan kecepatan cahaya (299.792,4989 km/detik). Berdasar rumus-rumus dan cara yang sama untuk perbandingan sehari sama dengan 50.000 tahun dapat diperoleh hasil perhitungan sama dengan 50 kali kecepatan cahaya (14.989.624,9442 km/detik). Kesimpulannya adalah berdasarkan informasi dari Al Qur'an dapat dihitung kecepatan terbang malaikat dan Jibril yaitu 50 kali kecepatan cahaya! Masya Allah!

Ilustrasi 2

Sampai saat ini pengetahuan manusia belum menemukan sesuatu pun yang mempunyai kecepatan melebihi kecepatan cahaya. Berdasarkan petunjuk Al Qur'an sangat jelas disebutkan bahwa malaikat dan Jibril mempunyai kemampuan terbang 50 kali kecepatan cahaya. Hal tersebut bisa dimaklumi karena penciptaan malaikat berasal dari unsur cahaya (nuur). Suatu saat diharapkan ilmuwan muslim dapat meneliti petunjuk tersebut dan menjadi penemu yang selangkah lebih maju karena berdasarkan Al Qur'an, kitab suci yang merupakan satu-satunya kitab yang eksak, berisi kepastian karena merupakan Firman Allah SWT.
____________________________________________________________
Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat.
SilaHkan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun.
semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sumber : Sudah Tahukah Anda ?

Read More »
Sabtu, Maret 17, 2012 | 1 komentar

KHR. Fawaid Situbondo Berpulang ke Rahmatullah

Komunitas Situbondo | KARak'S
Dengan ucapan Innalillahi wainnailaihi rojiun, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo Situbondo KHR Achmad Fawaid As'ad meninggal dunia di Graha Amerta RS Dr Soetomo Surabaya sekitar pukul 12.15 WIB.

KH Fawaid As'ad jatuh sakit semalam dan dirujuk dari RS Situbondo menuju ke RS Dr Soetomo Surabaya karena mengalami sakit jantung dan kencing manis.

Sekretaris DPC PPP Situbondo Sunardi Muhib membenarkan wafatnya Pengasuh Ponpes di Situbondo dan sangat disegani tersebut. "KH Fawaid dirujuk dari RS Situbondo semalam ke RS Dr Soetomo, beliau merasa sakit sebulan belakangan ini," katanya

Saat ini jenazah Fawaid sedang dalam perjalanan menuju Ponpes Salafiyah "Semua santri dan alumni sudah berdatangan," kata Muhib.

Rencananya jenazah akan dimakam di Ponpes Salwiyah di Sikorejo bersama almarhum ayahanda Kiai Syamsul Arifin. Jabatan terakhir KH Fawaid yaitu ketua DPC PPP 2006-2011 dan terpilih lagi kedua kali untuk menjabat dari tahun 2011-2016. KH Fawaid meninggal dalam usia 43 tahun.***

Sumber : BeritaJatim.com

Read More »
Jumat, Maret 09, 2012 | 1 komentar

Doa Qunut

Doa qunut - Kata qunut berasal dari kata qanata yang artinya patuh dalam mengabdi (kepada Allah). Di dalam islam, qunut terbagi menjadi dua. Pertama; qunut nazilah yaitu qunut yang dilakukan atau dibaca saat adanya bencana. Kedua; qunut shalat yaitu qunut yang dibaca pada waktu i’tidal (berdiri setelah ruku’) setiap akhir roka’at pada shalat subuh dan shalat whitir (secara umum) karena dalam masalah qunut ini para imam dan ulama mazhab berbeda pendapat tentang pelaksanaannya. Sedangkan hukum doa qunut itu sendiri adalah Sunnah Muakkad/ab’ad atau sunnah yang diperkuat.

Berikut adalah bacaan doa qunut

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ، وَقِنِيْ شَرَّمَا قََضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Read More »
Rabu, November 30, 2011 | 0 komentar

Doa Iftitah

Bacaan Doa iftitah – Jika kita melakukan sholat fardu maupun shalat sunnah, setelah takbiratul ikhram maka kita membaca doa, doa tersebut adalah doa iftitah. Dengan kata lain doa iftitah ialah doa yang dibaca pertama kali setelah takbiratul ikhram di rakaat pertama didalam shalat.

Bacaan doa iftitah yang dibaca oleh Rasulullah Saw bermacam-macam, dalam doa iftitah Nabi Saw mengucapkan pujian, sanjungan, dan kelimat keagungan untuk Allah. Doa iftitah dipaerintahkan oleh Rasulullah sebagaimana dalam hadits :

“Tidak sempurna shalat seseorang sebelum dia bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla, menyanjungnya, dan membaca ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya…”. (H.R Abu dawud dan Hakim)


Dan dibawah ini merupakan bacaan doa IFTITAH secara umum, yang sering dibaca oleh mayoritas orang muslim.


اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. أِنِّ وَجَّهْةُ وَجْهِيَ ِللذِيْ فَطَرَالسَّمَوَاتِ وَاْلآَرْضَ حَنِيِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِيْ وَنُسُكِيْ وَمْحْيَايَ وَمَمَاتِيْ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

ALLAHU AKBARU KABIRA WALHAMDU LILLAHI KATHIRA WASUBHANALLAHHI BUKRATAU WAASILA. INNI WAJJAHTU WAJHIA LILLAZI FATARAS SAMA WATI WAL ARDHA HANIFAM MUSLIMAW WAMA ANA MINAL MUSYRIKIN. INNA SOLATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMMAMATI LILLAHI RABBIL’ALAMIN. LA SYARIKALAHU WABIZA LIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIN.

Artinya:
Allah Maha Besar sebesar-besarnya. Dan puji-pujian bagi Allah sebanyak-banyaknya. Dan maha suci Allah siang dan malam. Kuhadapkan mukaku, kepada yang menjadikan langit dan bumi, aku cenderung lagi berserah kepada Allah dan bukanlah aku dari golongan orang-orang yang menyekutukan Allah. Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku kuserahkan hanya pada Allah tuhan seru sekelian alam. Sekali-kali tidaklah aku menyekutukanNya . Dan dengan demikian aku ditugaskan, dan aku adalah dari golongan orang-orang Muslim (Islam).

Read More »
Rabu, November 30, 2011 | 0 komentar

Doa Sehari-hari Islam Bahasa Arab – Indonesia Lengkap

Doa Sebelum Tidur

Doa Memohon Dikasihani Bila Diambil Nyawanya dan Dipelihara Jika Dihidupkan Kembali

بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَْرْفَعَُهُ فَإِن أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْْ سَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحيْنَ

BISMIKA RABBII WA DHA’TU JAMBII, WA BIKA ARFA’UH, FA IN AMSAKTA NAFSII FARHAMHAA, WA IN ARSALTAHAA FAHFAZHHAA, BIMAA TAHFAZHU BIHII ‘IBAADAKASH SHAALIHIIN.

Artinya: “Dengan menyebut nama-Mu, wahai Tuhanku, aku baringkan lambungku; dan dengan menyebut nama-Mu, aku angkat lambungku. Jika Engkau ambil nyawaku, kasihanilah dia; dan jika Engkau lepaskan, peliharalah dia dengan cara yang Engkau lakukan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa Memohon Dipelihara dari Siksa Neraka


(اَللّهُمَّ قِنِيْ عَدَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ (3

ALLAHUMMA QINII ‘ADZAABAKA YAUMA TAB’ATSU ‘IBAADAK. (3X)

Artinya: “Ya Allah, peliharalah diriku dari siksa-Mu pada saat Engkau bangkitkan hamba-hamba-Mu.” (3X) (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa Memohon Dimatikan dan Dihidupkan sebagai Muslim


بِاسْمِكَ اللّهُمَّ اَمُوتُ وَأَحْيَا

BISMIKA ALLAAHUMMA AMUUTU WA AHYAA.

Artinya: “Dengan menyebut nama-Mu, wahai Tuhanku, aku mati dan aku hidup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa Memohon Dicukupi dan Dilindungi


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي اَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَكَفَانَا وَآوَانَا

ALHAMDU LILLAAHIL LADZII ATH’AMANAA WA SAQAANAA, WA KAFAANAA, WA AAWAANAA,…

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memberi makan dan minum kepada kami, mencukupkan, dan memberi perlindungan kepada kami,…” (HR. Muslim)

Doa Apabila Susah Tidur


اللّهُمَّ غََارَتِ النَُّّجُومُ وَهَدَأتِ الْعُيُونُ وَأَنتَ حَيٌّ قَيُّْومٌ لاَّ تَأْخُذُكَ سِنَةٌ وََّلاَ نَوْمٌ يَاحَيُّ يَاقَيُّْمُ أَهْدِيْ لَيْلِي وَأَنِمْ عَيْنِي

ALLAHUMMA GHAARATIN NUJUUMU WA HADA’ATIL ‘UYUUNU WA ANTA HAYYUN QAYYUUMUL LAA TA’KHUDZUKA SINATUW WA LAA NAUUM, YAA HAYYU YAA QAYYUUMU AHDI’LAILII, WA ANIM ‘AINII.

Artinya: “Ya Allah, bintang-bintang tenggelam dan semua mata tertidur lelap, sedangkan Engkau Mahahidup abadi lagi terus-menerus mengurus makhluk-Mu, Engkau tidak pernah terkena kantuk dan tidak pula tidur. Wahai Yang Mahahidup abadi lagi terus-menerus mengurus makhluk, tenangkanlah malamku dan pejamkanlah mataku.” (HR. Ibnu Sunni)

Doa ketika Terbangun karena Terkejut


أَعُوْذُبِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقاَ بِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَ أَنْ يَّخْضَُرُونِ

A’UUDZU BI KALIMAATILLAAHIT TAAMMAATI MIN GHADHABIHII WA ‘IQAABIH, WA SYARRI ‘IBAADIH, WA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIINI WA AY YAHDHURUUN.

Artinya: “Aku berlindung (kepada Allah) dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka dan siksa-Nya, dan hembusan-hembusan setan, agar mereka tidak menyentuhku.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa ketika Bermimpi Buruk


أَعُوْذُبِ اللهِ مِنَ الشَّيَاطِيْنِ وَ مِنْ شَرِّ مَا رَآى

A’UUDZU BILLAAHI MINASY SYAITHAANI WA MIN SYARRI MAA RA’AA.

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari setan dan dari segala hal yang tidak baik dalam mimpi.” (HR. Muslim)

DOA BANGUN TIDUR

Doa Memohon Dihidupkan kembali dalam Keadaan Baik


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

ALHAMDU LILLAHIL LADZII AHYAANAA BA’DA MAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami; dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa Memohon Diberi Kesehatan dan Dibantu untuk Mengingat-Nya


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي وَ رَدََّ عَلَيَّ رُوْحِِي وَ أَذِنَ لِي بِذِكَْرِهِ

ALHAMDU LILLAHIL LADZII ‘AAFAANII FII JASADII, WA RADDA ‘ALAYYA RUUHII, WA ADZINA LII BI DZIKRIHI.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang memberikan kesehatan pada tubuhku, mengembalikan ruhku kepada diriku, dan mengizinkan aku untuk menginginkan-Nya.” (HR. Tirmidzi)

Doa Memakai Pakaian


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا (الثَّوبَ) وَرَزَقْنِيهِ مِنْ غَيْرِ تَوْلٍ مِنِّي وََلاَ قُوَّةٍ

ALHAMDU LILLAAHIL LADZII KASAANII HAADZATS TSAUBA WA RAZAQNIIHI MIN GHAIRI HAULIM MINNII WA LAA QUWWAH.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah mengenakan pakaian ini kepadaku dan mengaruniakannya kepadaku, padahal diriku tidak mempunyai daya dan kekuatan.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Doa Memakai Pakaian Baru


اللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنتَ كَسَوْتَنِيهِ أَسْأَ لُكَ مِنْ خَيْرٍهِ وَخَيْرٍ مَا صُنِعَ لَهُ وََ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

ALLAHUMMA LAKAL HAMDU ANTA KASAUTANIIH, AS’ALUKA MIN KHAIRIHII WA KHAIRI MAA SHUNI’A LAH, WA A’UUDZU BIKA MIN SYARRIHII WA SYARRI MAA SHUNI’A LAH.

Artinya: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau lah yang mengenakan pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari pakaian ini dan kebaikan pemakaiannya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan semua keburukan pemakaiannya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa Melepaskan Pakaian


بِسْمِ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ

BISMILLAAHIL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWA.

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.” (HR. Ibnu Sunni)

Itulah beberapa kumpulan doa sehari-hari bahasa arab dan latin, semoga bermanfaat bagi kita semua. Kumpulan doa sehari-hari islam bahasa arab bahasa latin serta artinya,kutip dari indonesiaindonesia.com

Read More »
Selasa, November 29, 2011 | 0 komentar

Asmaa'ul Husna

<tbody>
<tr style="background-color: rgb(204, 255, 204); color: black;"><th>No.</th> <th>Nama</th> <th>Arab</th> <th>Indonesia</th> </tr>
<tr> <td align="right"><br>
</td> <td>Allah</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الله</td> <td>Allah</td> </tr>

<tr> <td align="right">1</td> <td>Ar Rahman</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرحمن</td> <td>Yang Maha Pengasih</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">2</td> <td>Ar Rahiim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرحيم</td> <td>Yang Maha Penyayang</td> </tr>

<tr> <td align="right">3</td> <td>Al Malik</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الملك</td> <td>Yang Maha Merajai/Memerintah</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">4</td> <td>Al Quddus</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">القدوس</td> <td>Yang Maha Suci</td> </tr>

<tr> <td align="right">5</td> <td>As Salaam</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">السلام</td> <td>Yang Maha Memberi Kesejahteraan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">6</td> <td>Al Mu`min</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المؤمن</td> <td>Yang Maha Memberi Keamanan</td> </tr>

<tr> <td align="right">7</td> <td>Al Muhaimin</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المهيمن</td> <td>Yang Maha Pemelihara</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">8</td> <td>Al `Aziiz</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">العزيز</td> <td>Yang Memiliki Mutlak Kegagahan</td> </tr>

<tr> <td align="right">9</td> <td>Al Jabbar</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الجبار</td> <td>Yang Maha Perkasa</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">10</td> <td>Al Mutakabbir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المتكبر</td> <td>Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran</td> </tr>

<tr> <td align="right">11</td> <td>Al Khaliq</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الخالق</td> <td>Yang Maha Pencipta</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">12</td> <td>Al Baari`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">البارئ</td> <td>Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)</td> </tr>

<tr> <td align="right">13</td> <td>Al Mushawwir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المصور</td> <td>Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">14</td> <td>Al Ghaffaar</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الغفار</td> <td>Yang Maha Pengampun</td> </tr>

<tr> <td align="right">15</td> <td>Al Qahhaar</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">القهار</td> <td>Yang Maha Memaksa</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">16</td> <td>Al Wahhaab</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الوهاب</td> <td>Yang Maha Pemberi Karunia</td> </tr>

<tr> <td align="right">17</td> <td>Ar Razzaaq</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرزاق</td> <td>Yang Maha Pemberi Rejeki</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">18</td> <td>Al Fattaah</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الفتاح</td> <td>Yang Maha Pembuka Rahmat</td> </tr>

<tr> <td align="right">19</td> <td>Al `Aliim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">العليم</td> <td>Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">20</td> <td>Al Qaabidh</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">القابض</td> <td>Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)</td> </tr>

<tr> <td align="right">21</td> <td>Al Baasith</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الباسط</td> <td>Yang Maha Melapangkan (makhluknya)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">22</td> <td>Al Khaafidh</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الخافض</td> <td>Yang Maha Merendahkan (makhluknya)</td> </tr>

<tr> <td align="right">23</td> <td>Ar Raafi`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرافع</td> <td>Yang Maha Meninggikan (makhluknya)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">24</td> <td>Al Mu`izz</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المعز</td> <td>Yang Maha Memuliakan (makhluknya)</td> </tr>

<tr> <td align="right">25</td> <td>Al Mudzil</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المذل</td> <td>Yang Maha Menghinakan (makhluknya)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">26</td> <td>Al Samii`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">السميع</td> <td>Yang Maha Mendengar</td> </tr>

<tr> <td align="right">27</td> <td>Al Bashiir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">البصير</td> <td>Yang Maha Melihat</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">28</td> <td>Al Hakam</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحكم</td> <td>Yang Maha Menetapkan</td> </tr>

<tr> <td align="right">29</td> <td>Al `Adl</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">العدل</td> <td>Yang Maha Adil</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">30</td> <td>Al Lathiif</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">اللطيف</td> <td>Yang Maha Lembut</td> </tr>

<tr> <td align="right">31</td> <td>Al Khabiir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الخبير</td> <td>Yang Maha Mengenal</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">32</td> <td>Al Haliim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحليم</td> <td>Yang Maha Penyantun</td> </tr>

<tr> <td align="right">33</td> <td>Al `Azhiim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">العظيم</td> <td>Yang Maha Agung</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">34</td> <td>Al Ghafuur</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الغفور</td> <td>Yang Maha Pengampun</td> </tr>

<tr> <td align="right">35</td> <td>As Syakuur</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الشكور</td> <td>Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">36</td> <td>Al `Aliy</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">العلى</td> <td>Yang Maha Tinggi</td> </tr>

<tr> <td align="right">37</td> <td>Al Kabiir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الكبير</td> <td>Yang Maha Besar</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">38</td> <td>Al Hafizh</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحفيظ</td> <td>Yang Maha Memelihara</td> </tr>

<tr> <td align="right">39</td> <td>Al Muqiit</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المقيت</td> <td>Yang Maha Pemberi Kecukupan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">40</td> <td>Al Hasiib</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحسيب</td> <td>Yang Maha Membuat Perhitungan</td> </tr>

<tr> <td align="right">41</td> <td>Al Jaliil</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الجليل</td> <td>Yang Maha Mulia</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">42</td> <td>Al Kariim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الكريم</td> <td>Yang Maha Mulia</td> </tr>

<tr> <td align="right">43</td> <td>Ar Raqiib</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرقيب</td> <td>Yang Maha Mengawasi</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">44</td> <td>Al Mujiib</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المجيب</td> <td>Yang Maha Mengabulkan</td> </tr>

<tr> <td align="right">45</td> <td>Al Waasi`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الواسع</td> <td>Yang Maha Luas</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">46</td> <td>Al Hakiim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحكيم</td> <td>Yang Maha Maka Bijaksana</td> </tr>

<tr> <td align="right">47</td> <td>Al Waduud</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الودود</td> <td>Yang Maha Mengasihi</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">48</td> <td>Al Majiid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المجيد</td> <td>Yang Maha Mulia</td> </tr>

<tr> <td align="right">49</td> <td>Al Baa`its</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الباعث</td> <td>Yang Maha Membangkitkan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">50</td> <td>As Syahiid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الشهيد</td> <td>Yang Maha Menyaksikan</td> </tr>

<tr> <td align="right">51</td> <td>Al Haqq</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحق</td> <td>Yang Maha Benar</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">52</td> <td>Al Wakiil</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الوكيل</td> <td>Yang Maha Memelihara</td> </tr>

<tr> <td align="right">53</td> <td>Al Qawiyyu</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">القوى</td> <td>Yang Maha Kuat</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">54</td> <td>Al Matiin</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المتين</td> <td>Yang Maha Kokoh</td> </tr>

<tr> <td align="right">55</td> <td>Al Waliyy</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الولى</td> <td>Yang Maha Melindungi</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">56</td> <td>Al Hamiid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحميد</td> <td>Yang Maha Terpuji</td> </tr>

<tr> <td align="right">57</td> <td>Al Muhshii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المحصى</td> <td>Yang Maha Mengkalkulasi</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">58</td> <td>Al Mubdi`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المبدئ</td> <td>Yang Maha Memulai</td> </tr>

<tr> <td align="right">59</td> <td>Al Mu`iid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المعيد</td> <td>Yang Maha Mengembalikan Kehidupan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">60</td> <td>Al Muhyii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المحيى</td> <td>Yang Maha Menghidupkan</td> </tr>

<tr> <td align="right">61</td> <td>Al Mumiitu</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المميت</td> <td>Yang Maha Mematikan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">62</td> <td>Al Hayyu</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الحي</td> <td>Yang Maha Hidup</td> </tr>

<tr> <td align="right">63</td> <td>Al Qayyuum</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">القيوم</td> <td>Yang Maha Mandiri</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">64</td> <td>Al Waajid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الواجد</td> <td>Yang Maha Penemu</td> </tr>

<tr> <td align="right">65</td> <td>Al Maajid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الماجد</td> <td>Yang Maha Mulia</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">66</td> <td>Al Wahiid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الواحد</td> <td>Yang Maha Tunggal</td> </tr>

<tr> <td align="right">67</td> <td>Al Ahad</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الاحد</td> <td>Yang Maha Esa</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">68</td> <td>As Shamad</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الصمد</td> <td>Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta</td> </tr>

<tr> <td align="right">69</td> <td>Al Qaadir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">القادر</td> <td>Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">70</td> <td>Al Muqtadir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المقتدر</td> <td>Yang Maha Berkuasa</td> </tr>

<tr> <td align="right">71</td> <td>Al Muqaddim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المقدم</td> <td>Yang Maha Mendahulukan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">72</td> <td>Al Mu`akkhir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المؤخر</td> <td>Yang Maha Mengakhirkan</td> </tr>

<tr> <td align="right">73</td> <td>Al Awwal</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الأول</td> <td>Yang Maha Awal</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">74</td> <td>Al Aakhir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الأخر</td> <td>Yang Maha Akhir</td> </tr>

<tr> <td align="right">75</td> <td>Az Zhaahir</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الظاهر</td> <td>Yang Maha Nyata</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">76</td> <td>Al Baathin</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الباطن</td> <td>Yang Maha Ghaib</td> </tr>

<tr> <td align="right">77</td> <td>Al Waali</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الوالي</td> <td>Yang Maha Memerintah</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">78</td> <td>Al Muta`aalii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المتعالي</td> <td>Yang Maha Tinggi</td> </tr>

<tr> <td align="right">79</td> <td>Al Barri</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">البر</td> <td>Yang Maha Penderma</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">80</td> <td>At Tawwaab</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">التواب</td> <td>Yang Maha Penerima Tobat</td> </tr>

<tr> <td align="right">81</td> <td>Al Muntaqim</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المنتقم</td> <td>Yang Maha Pemberi Balasan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">82</td> <td>Al Afuww</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">العفو</td> <td>Yang Maha Pemaaf</td> </tr>

<tr> <td align="right">83</td> <td>Ar Ra`uuf</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرؤوف</td> <td>Yang Maha Pengasuh</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">84</td> <td>Malikul Mulk</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">مالك الملك</td> <td>Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)</td> </tr>

<tr> <td align="right">85</td> <td>Dzul Jalaali Wal Ikraam</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">ذو الجلال و الإكرام</td> <td>Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">86</td> <td>Al Muqsith</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المقسط</td> <td>Yang Maha Pemberi Keadilan</td> </tr>

<tr> <td align="right">87</td> <td>Al Jamii`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الجامع</td> <td>Yang Maha Mengumpulkan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">88</td> <td>Al Ghaniyy</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الغنى</td> <td>Yang Maha Kaya</td> </tr>

<tr> <td align="right">89</td> <td>Al Mughnii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المغنى</td> <td>Yang Maha Pemberi Kekayaan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">90</td> <td>Al Maani</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">المانع</td> <td>Yang Maha Mencegah</td> </tr>

<tr> <td align="right">91</td> <td>Ad Dhaar</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الضار</td> <td>Yang Maha Penimpa Kemudharatan</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">92</td> <td>An Nafii`</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">النافع</td> <td>Yang Maha Memberi Manfaat</td> </tr>

<tr> <td align="right">93</td> <td>An Nuur</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">النور</td> <td>Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">94</td> <td>Al Haadii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الهادئ</td> <td>Yang Maha Pemberi Petunjuk</td> </tr>

<tr> <td align="right">95</td> <td>Al Baadii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">البديع</td> <td>Yang Indah Tidak Mempunyai Banding</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">96</td> <td>Al Baaqii</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الباقي</td> <td>Yang Maha Kekal</td> </tr>

<tr> <td align="right">97</td> <td>Al Waarits</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الوارث</td> <td>Yang Maha Pewaris</td> </tr>
<tr style="background-color: rgb(238, 238, 238); color: black;"> <td align="right">98</td> <td>Ar Rasyiid</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الرشيد</td> <td>Yang Maha Pandai</td> </tr>

<tr> <td align="right">99</td> <td>As Shabuur</td> <td style="font-size: 200%;" align="right">الصبور</td> <td>Yang Maha Sabar</td></tr>
</tbody>

Read More »
Selasa, November 29, 2011 | 0 komentar

1 Muharram 1433 H

1 Muharram 1433 H

MUHARAM adalah bulan pertama dalam tahun Islam (Hijrah). Sebelum Rasulullah berhijrah dari Makkah ke Yathrib, kiraan bulan dibuat mengikut tahun Masihi. Hijrah Rasulullah memberi kesan besar kepada Islam sama ada dari sudut dakwah Rasulullah, ukhuwwah dan syiar Islam itu sendiri.

Pada asasnya, Muharam membawa maksud 'diharamkan' atau 'dipantang', iaitu Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah. Namun demikian larangan ini ditamatkan setelah pembukaan Makkah (Al Baqarah: 91). Sejak pemansuhan itu, umat Islam boleh melaksanakan tugas dan ibadat harian tanpa terikat lagi dengan larangan berkenaan.

Doa akhir tahun:
dibaca 3 kali pada akhir waktu Asar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah.

Sesiapa yang membaca doa ini, syaitan berkata:
"Kesusahan bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini dan Allah binasakan aku satu saat jua. Dengan sebab membaca doa ini, Allah ampunkan dosanya setahun."

Berikut adalah Doa Akhir Tahun:
Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Selawat dan salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w. serta ahli keluarga baginda dan para sahabatnya.

Ya allah, sesungguhnya pada tahun ini aku telah melakukan laranganMu tetapi aku masih belum bertaubat sedangkan Engkau tidak reda dan melupai perkara itu. Engkau telah menangguhkan azabMu yang telah ditetapkan kepadaku. Engkau telahmemerintah supaya aku bertaubat dari kesalahan itu. Sesungguhnya pada hari ini aku memohon keampunan dariMu, ampunilah aku dan apa yang telah aku lakukan pada tahun ini yang Engkau redai dan Engkau janjikan pahala maka aku memohonnya daripada Engkau. Ya Allah, Ya Karim, Ya Zaljalali Wal Ikram.

Selawat dan salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w serta ahli keluarga baginda dan para sahabatnya. Segala puji hanya bagi Allah, tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam...Amin...

Waktu membacanya:
Doa akhir tahun dibaca 3 kali pada akhir waktu Asar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah. Sesiapa yang membaca doa ini maka akan berkata syaitan, "Kesusahan bagiku dan sia-sialah pekerjaanku menggoda anak Adam pada tahun ini dan Allah akan membinasakan aku pada saat itu juga. Dengan membaca doa ini allahakan engampunkan dosanya setahun."

Doa awal tahun:
dibaca 3 kali selepas maghrib pada malam satu Muharram.
Sesiapa yang membaca doa ini, syaitan berkata:
"Telah amanlah anak Adam ini daripada godaan pada tahun ini kerana Allah telah mewakilkan dua Malaikat memeliharanya daripada fitnah Syaitan."

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Selawat dan salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w serta ahli keluarga baginda dan para sahabatnya.

Ya Allah, Engkaulahyang kekal abadi untuk selama-lamanya. Demi kelebihanMu yang Maha Agong dan kemurahanMu yang melimpah, sesungguhnya pada tahun ini aku memohon kepadaM perlindungan daripada syaitan yang direjam, dari sekalan kuncunya, tenteranya dan penolongnya. aku juga memohon perlindungan daripada nafsu amarah yang sentiasa mendoong ke arah kejahatan danmelalaikan dengan perkara yang tidak berfaedah daripada mendekatkan diriku kepadaMu.

Selawat serta salam ke atas junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w. serta ahli keluarga baginda dan paa sahabat. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam....Amin...
Waktu membacanya:
Doa ini dibaca 3 kali setelah masuk waktu maghrib pada malam 1 Muharram, Sesiapa yang membaca doa ini maka akan berkaa syaitan, "Telah amanlah anak Adam daripada godaanku pada tahun ini kerana Allah telah mewakilkan dua malaikat untuk memeliharanya dari fitnah syaitan."

Peristiwa-peristiwa penting:
1 Muharam - Khalifah Umar Al-Khattab mula membuat penetapan kiraan bulan dalam Hijrah.
10 Muharam - Dinamakan juga hari 'Asyura'. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah bagi menegakkan keadilan dan kebenaran.

Pada 10 Muharam juga telah berlaku:
  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  14. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  15. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  16. Allah menjadikan 'Arasy.
  17. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
  18. Allah menjadikan alam.
  19. Allah menjadikan Malaikat Jibril.
  20. Nabi Isa diangkat ke langit.


Amalan-amalan sunat:
Antara amalan disunatkan pada bulan Muharam:
  1. Berpuasa. Maksud Hadis: Barang siapa berpuasa satu hari dalam bulan Muharam pahalanya seumpama berpuasa 30 tahun.Maksud Hadis: Barang siapa yang berpuasa tiga hari dalam bulan Muharam, iaitu hari Khamis, Jumaat dan Sabtu, Allah tulis padanya pahala seperti mana beribadat selama 2 tahun.
  2. Banyakkan amal ibadat seperti solat sunat, zikir dan sebagainya.
  3. Berdoa akhir tahun pada hari terakhir bulan Zulhijah selepas Asar sebanyak 3X
  4. Berdoa awal tahun pada 1 Muharram selepas Maghrib 3X
Empat belas perkara sunat dilakukan pada hari Asyura (10 Muharram):
  1. Melapangkan masa/belanja anak isteri. Fadilatnya - Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun ini.
  2. Memuliakan fakir miskin. Fadilatnya - Allah akan melapangkannya dalam kubur nanti.
  3. Menahan marah. Fadilatnya - Di akhirat nanti Allah akan memasukkannya ke dalam golongan yang redha.
  4. Menunjukkan orang sesat. Fadilatnya - Allah akan memenuhkan cahaya iman dalam hatinya.
  5. Menyapu/mengusap kepala anak yatim. Fadilatnya - Allah akan mengurniakan sepohon pokok di syurga bagi tiap-tiap rambut yang disapunya.
  6. Bersedekah. Fadilatnya - Allah akan menjauhkannya daripada neraka sekadar jauh seekor gagak terbang tak berhenti-henti dari kecil sehingga ia mati. Diberi pahala seperti bersedekah kepada semua fakir miskin di dunia ini.
  7. Memelihara kehormatan diri. Fadilatnya - Allah akan mengurniakan hidupnya sentiasa diterangi cahaya keimanan.
  8. Mandi Sunat. Fadilatnya - Tidak sakit (sakit berat) pada tahun itu. Lafaz niat: "Sahaja aku mandi sunat hari Asyura kerana Allah Taala."
  9. Bercelak. Fadilatnya - Tidak akan sakit mata pada tahun itu.
  10. Membaca Qulhuwallah hingga akhir 1,000X. Fadilatnya - Allah akan memandanginya dengan pandangan rahmah di akhirat nanti.
  11. Sembahyang sunat empat rakaat. Fadilatnya - Allah akan mengampunkan dosanya walau telah berlarutan selama 50 tahun melakukannya. Lafaz niat: "Sahaja aku sembahyang sunat hari Asyura empat rakaat kerana Allah Taala." Pada rakaat pertama dan kedua selepas Fatihah dibaca Qulhuwallah 11X.
  12. Membaca "has biallahhu wa nik mal wa keel, nikmal maula wa nikmannaseer". Fadilatnya - Tidak mati pada tahun ini.
  13. Menjamu orang berbuka puasa. Fadhilat - Diberi pahala seperti memberi sekalian orang Islam berbuka puasa.
  14. Puasa. Niat - "Sahaja aku berpuasa esok hari sunat hari Asyura kerana Allah Taala." Fadilat - Diberi pahala seribu kali Haji, seribu kali umrah dan seribu kali syahid dan diharamkannya daripada neraka.

Kisah Hijrah:
RASULULLAH (SAW) berusia 40 tahun apabila malaikat Jibrail (as) melawat baginda ketika baginda sedang berkhalwat di Gua Hira. Jibrail memberitahu Nabi Muhammad, baginda diangkat oleh Allah SWT sebagai rasul untuk seluruh umat manusia.

Pada peringkat awal, Rasulullah hanya memperkenalkan Islam kepada sahabat terdekat dan ahli keluarga baginda. Apabila baginda menerima perintah daripada Allah SWT supaya berdakwah secara terbuka, baginda segera akur.

Baginda mengumpul beberapa pengikut di Makkah. Begitupun, kumpulan kecil Muslim itu terdedah kepada maut berikutan ancaman daripada kaum kafir, terutama bangsa Quraish, yang menyeksa mereka dengan teruk.

Bagi mengelakkan ancaman itu, Rasulullah SAW mengarahkan pengikutnya supaya keluar dari Makkah secara senyap-senyap ke Madinah (ketika itu dikenali sebagai Yathrib). Mereka meninggalkan keluarga yang kafir dan harta benda dan disambut dengan mesra oleh penduduk Madinah.

Satu hari pada tahun 622SM, iaitu kira-kira 12 selepas berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW diberitahu kaum kafirun Makkah merancang membunuh baginda untuk memusnahkan Islam. Rasulullah menunggu perintah daripada Allah SWT. Malaikat Jibrail (as) menemui baginda untuk memberitahunya Allah SWT mengarahkan baginda supaya meninggalkan Madinah pada waktu malam.

Berikutan itu, baginda menemui sahabat baiknya Abu Bakar as-Siddiq (ra) dan memintanya supaya menemani baginda dalam perjalanan itu. Rasulullah juga memberitahu rancangan baginda kepada Ali bin Abi Talib (ra). Baginda memberitahunya: "Saya akan berhijrah tetapi anda perlu mengambil tempat saya di rumah." Ali (ra) tanpa banyak soal menuruti permintaan Rasulullah (SAW) walaupun menyedari bahaya bakal dihadapinya.

Malam itu, sekumpulan Quraish mengepung rumah Rasulullah (SAW). Mengintai melalui lubang di pintu, mereka nampak seseorang sedang tidur di atas katil Rasulullah (SAW). Mereka begitu yakin Rasulullah tidak dapat melepaskan diri dan mereka pasti dapat membunuh baginda. Apabila fajar menjelang, mereka terperanjat melihat Ali (as) dan bukannya Rasulullah (SAW) bangun dari katil itu.

Mereka terpinga-pinga memikirkan bila Rasulullah (SAW) keluar dari rumah itu.

Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr (as) keluar dari Makkah pada malam itu juga. Tiada siapa mengetahui arah tujuan mereka dan tiada siapa tahu tempat persembunyian mereka kecuali Abdullah dan anak-anak Abu Bakr, Aishah dan Asma, serta orang gaji mereka, Abdullah. Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr bersembunyi dalam sebuah gua di Gunung Thaur. Selama tiga hari mereka berada dalam gua itu.

Apabila kaum Quraish menghampiri gua itu untuk mencari Rasulullah (SAW) tetapi mereka tidak memasukinya. Mereka yakin Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr (as) tidak berada di dalam kerana mulut gua itu dilitupi oleh benang sarang labah-labah dan sepasang burung merpati. Allah SWT membantu dua insan ini, melindungi mereka daripada bahaya. Kumpulan Quraish kemudian meninggalkan gua itu dan bersetuju untuk pulang ke Makkah.

Yakin musuh sudah beredar, Rasulullah (SAW) dan Abu Bakr (as) meneruskan perjalanan dengan menaiki unta dibawa oleh orang gaji mereka, Abdullah. Ketiga-tiga mereka menggunakan laluan tidak diketahui ramai untuk ke Madinah bagi mengelakkan kumpulan pemburu Quraish. Mereka meredah gunung, bukit dan gurun di bawah perit matahari tetapi mereka tidak pernah berputus asa. Mereka meletakkan segala kepercayaan kepada Allah SWT.

Sementara itu, kaum Quraish di Makkah semakin marah dengan kehilangan Rasulullah (SAW). Mereka menawarkan hadiah kepada sesiapa yang dapat menangkap Rasulullah (SAW). Ramai yang mencuba nasib tetapi semuanya gagal.

Akhirnya dengan perlindungan Allah SWT, Rasulullah (SAW) dan sahabatnya tiba perkampungan kaum Bani Sabin yang menyambut mereka dengan gembira. Setelah sekian lama, Rasulullah (SAW) dan sahabatnya akhir merasakan kehadiran harapan untuk masa depan.

Ketika Rasulullah (SAW) dan sahabatnya dalam perjalanan, penduduk Islam yang sudah berpindah ke Madinah sebelum ini mendengar berita mengenai kedatangan pemimpin mereka itu. Malah penduduk Madinah yang baru memeluk Islam juga gembira dapat bertemu Rasulullah (SAW). Jelaslah, sebelum tibanya Rasulullah di Madinah, Islam semakin kukuh di tempat baru itu, sesuatu yang tidak berlaku ketika berada di Makkah.

Maka pada satu hari Jumaat yang ceria, Rasulullah (SAW) akhirnya diumumkan sudah tiba di Madinah. Kaum Muslim semua keluar untuk menyambut baginda. Rasulullah (SAW) menunaikan solat di sebuah masjid di Lembah Ranuqna, tempat semua umat Islam berkumpul untuk melihat kelibat lelaki mereka sanjungi itu.

Bertitik tolak dari itu, Rasulullah (SAW) mula membina sebuah negara Islam yang megah. Baginda memupukkan persaudaraan di kalangan umat Muslim dan menyeru mereka supaya menegakkan yang hak dan mengikut segala perintah Allah SWT.

Kesan daripada penghijrahan Rasulullah (SAW) dari Makkah ke Madinah adalah satu catatan penting sehingga umat Islam menjadikan peristiwa bersejarah ini sebagai permulaan kalendar Islam.

Tentang Kaabah:
Kaabah: Saiz dan Sejarahnya
Saiz Kaabah: Tinggi Kaabah ialah 39 kaki, 6 inci dan keseluruhannya saiznya ialah 627 kaki persegi.
Bilik di dalam Kaabah ialah 13X9 meter. Dinding Kaabah adalah seluas satu meter. Lantai di dalam ialah 2.2 meter lebih tinggi daripada tempat orang ramai mengerjakan tawaf.
Siling dan bumbung diperbuat daripada kayu.
Dindingnya diperbuat daripada batu. Dinding di dalam tidak dikilat manakala yang di luar adalah berkilat.
Bangunan kecil ini dibina dan dibina semula oleh Rasul-rasul Adam, Ibrahim, Ismail dan Muhammad. Tiada bangunan lain mempunyai penghormatan ini.

Adakah anda mengetahui Kaabah pernah dilanda oleh malapetaka seperti bah selain serangan manusia?

Nama-nama Kaabah:
  • Nama-nama Kaabah:
Dalam bahasa Arab, Kaabah bermakna sebuah tempat tinggi yang dihormati dan penuh kebesaran. Perkataan Kaabah boleh juga bermakna kiub.
  • Nama-nama lain adalah:
Bait ul Ateeq - bermakna paling awal dan lama. Ia juga bermakna bebas dan merdeka. Kedua-dua makna boleh diterima.
Bayt ul Haram - rumah dihormati.
  • Kaabah dibina semula 12 kali.
Para akademik dan sejarahwan berkata Kaabah dibina semula antara lima hingga 12 kali.

Pembinaan pertama Kaabah dilakukan oleh Nabi Adam (as). Allah SWT menyatakan dalam al-Quran Kaabah adalah rumah pertama dibina untuk manusia menyembah Allah SWT.
Selepas itu, Nabi Ibrahim (as) dan Ismail (as) membina semula Kaabah. Ukuran Kaabah diasaskan oleh Ibrahim adalah seperti berikut:
- Dinding Timur adalah 48 kaki dan 6 inci
- Dinding Hatim adalah 33 kaki
- Dinding antara hajar aswad dan sudut Yamani adalah 30 kaki
- Dinding Barat adalah 46.5 kaki
Selepas ini berlaku beberapa pembinaan semula sebelum masa Rasulullah (SAW). Nama-nama Kaabah:

Pembinaan semula Kaabah oleh kaum Quraish

Rasulullah mengambil bahagian dalam salah satu daripada pembinaan semula ini sebelum baginda menjadi Rasul. Selepas satu banjir kilat, Kaabah mengalami kerosakan dan dindingnya retak. Ia perlu dibina semula. Tugas ini dibahagikan antara empat puak Quraish. Rasulullah turut membantu dalam usaha pembinaan semula ini. Setelah dinding-dindingnya dibina semula, tiba masanya batu hajar aswad diletak semula di tempatnya di dinding Timur Kaabah.

Pertelingkahan berlaku apabila tiba masa untuk menentukan siapa mendapat penghormatan meletakkan batu hajar aswad itu. Apabila pertelingkahan hampir bertukar menjadi pergaduhan, Abu Umayyah, penduduk tertua Makkah, mencadangkan agar lelaki pertama yang memasuki pagar masjid pagi keesokkannya akan menentukan perkara berkenaan. Lelaki itu ialah Rasulullah. Penduduk Makkah bergembira. "Ia adalah al-Amin. Ia adalah Muhammad," jerit mereka. Baginda menghampiri mereka lalu mereka memintanya supaya memutuskan perkara itu. Baginda bersetuju.

Rasulullah mencadangkan agar batu hitam itu diletak di atas sehelai kain, setiap bucu kain dipegang oleh seorang pemimpin puak. Kain itu diangkat ke tempat batu itu hendak diletak. Rasulullah kemudian mengambil batu itu dan meletakkannya di tempatnya di dinding Kaabah.

Read More »
Sabtu, November 26, 2011 | 0 komentar

Ramadhan adalah Bulan Tarbiyah

Komunitas Situbondo | KARak'S

Oleh : Edy S Triesno - Ramadhan adalah bulan tarbiyah, pendidikan, atau latihan bagi jiwa dalam menghadapi berbagai permasalahan sehingga siap melaksanakan berbagai kegiatan. Pada bulan ini biasanya manusia melipat gandakan amal dan ibadatnya. Tarbiyah selama sebulan penuh seharusnya diikuti pada bulan-bulan berikutnya dengan berbagai amal saleh. Ramadhan menjadi training centre untuk berlatih memperbaiki diri agar menjadi insan yang bertakwa. Untuk itu diperlukan persiapan dan latihan selama bulan Ramadhan. Rasulullah saw. memberikan pembelajaran kepada kita agar diberikan kekuatan dan kemampuan agar dapat melakukan berbagai amal saleh. Ramadhan mendidik manusia menjadi Rabbani, bukan hanya menjadi Ramadhani, yaitu manusia yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. selama hidupnya tidak hanya pada bulan Ramadhan saja. Ramadhan memerlukan kesiapan diri untuk berjuang dan bertarung melawan hawa nafsu dan syetan serta menyiapkan diri mendapatkan keridhaan Allah swt.

Sejatinya setelah kita menjalankan shaum sebulan penuh di bulan Ramadhan akan mendapatkan hari kemenangan setelah bertarung melawan hawa nafsu. Shiyam atau shaum yang kita laksanakan selama bulan Ramadhan ini pada hakekatnya bukan hanya sekedar menahan lapar, dahaga dan dorongan pemenuhan kebutuhan seksual di siang hari semata-mata. Perjuangan yang paling berat adalah berperang melawan dorongan hawa nafsu yang selalu cenderung untuk menyuruh kepada hal-hal yang buruk atau jahat. Firman Allah swt. dalam QS Yusuf ayat 53,”Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dorongan hawa nafsu yang muqoddimahnya adalah tuntutan pemenuhan kebutuhan perut dan syahwat apabila diikuti tanpa kendali akan menjerumuskan manusia ke dalam perilaku yang nista. Diantara contohnya adalah perilaku serakah, mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, atau perbuatan-perbuatan lain yang dilarang oleh syari’at Islam dan/atau bertentangan dengan norma-norma serta aturan-aturan perundangan yang berlaku. Bila kita perhatikan secara seksama, perbuatan-perbuatan seperti itu pada hakekatnya adalah mengikuti dorongan-dorongan nafsu dan bujukan syetan yang harus diperangi, bukan hanya di bulan suci Ramadhan tetapi harus diperangi setiap saat dalam kehidupan kita. Upaya untuk melatih diri dalam melawan dorongan hawa nafsu ini dilakukan dengan menjalankan shaum selama bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri atau menahan diri dari memenuhi kebutuhan hawa nafsu meskipun hal semacam itu pada waktu-waktu lain halal dilakukan. Contohnya adalah makan, minum, dan bergaul intim suami isteri yang sah menurut syariat Islam pada waktu siang hari. Pengendalian diri ini untuk membebaskan diri dari penghambaan kepada hawa nafsu. Itulah yang disebut dengan jihadunnafs atau jihad melawan hawa nafsu, seperti firman Allah dalam QS. Al Ankabuut ayat 69,”Dan barangsiapa berjihad untuk mencari keridhaan Kami, sungguh akan Kami tunjukan kepadanya jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.” Shaum merupakan fondasi dasar dalam pembentukan semangat atau mental izzatun nafs (berjiwa besar) yang diperlukan untuk tetap berdirinya dengan tegak Islam di muka bumi ini. Kaum muslimin seharusnya mampu menjawab tantangan jaman yang sedang berkembang pesat ini yang cenderung lebih memperturutkan hawa nafsu materialistis dan kurang memperhatikan nilai-nilai spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Alhamdulillah shaum Ramadhan yang pada hakekatnya merupakan latihan dan/atau ikhtiar men-charge kembali (charging) kemampuan melawan hawa nafsu ini sedang/sudah kita laksanakan sebulan penuh. Kita bersyukur karena akan dan telah memenangkan peperangan melawan hawa nafsu ini sehingga kita nantinya dapat kembali kepada fitrah asli yaitu cenderung selalu taat kepada aturan dan hukum-hukum Allah swt. Dengan kemenangan ini diharapkan ketakwaan kita meningkat, sehingga dalam menjalani kehidupan pada hari-hari selanjutnya kita akan mampu menahan dorongan nafsu dan bujuk rayu syetan yang mengarah pada perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan baik oleh syari’at Islam maupun oleh hukum-hukum positif.
Ibadah shaum pada hakekatnya merupakan suatu proses pendidikan, yakni upaya yang secara sengaja dilakukan untuk mengubah perilaku setiap Muslim, sehingga menjadi orang yang meningkat ketakwaannya. Shaum telah mendidik setiap muslim untuk mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik sehingga menjadi manusia yang bertakwa. Melalui ibadah shaum kita sebagai manusia yang memiliki nafsu dan cenderung ingin selalu mengikuti hawa nafsu dilatih untuk berubah menjadi manusia yang selalu berperilaku sesuai dengan fithrah aslinya. Fithrah asli manusia adalah cenderung taat dan mengikuti perintah dan aturan Allah swt. Melalui proses pendidikan yang terkandung dalam ibadah shaum diharapkan setiap muslim menjadi manusia yang kehadirannya di manapun dalam masyarakat yang bersifat plural ini dapat memberi manfaat kepada sesama.

Ketakwaan sebagai tujuan akhir dari menjalankan ibadah shaum mengandung implikasi pada proses pendidikan yaitu menyucikan diri, mengendalikan sikap dan perilaku untuk senantiasa beribadah sehingga membentuk kepribadian muslim. Pribadi muslim yang memiliki fikiran yang bersih dan suci untuk senantiasa mengkaji semua ciptaan Allah swt. sehingga kita mensyukuri nikmat dari Allah swt. yang telah diberikan kepada kita. Dengan fikiran yang bersih dan suci ini dapat mengembangkan kecerdasan kita, cerdas dalam berpikir, bersikap, dan berprilaku sehingga apa yang dilakukannya senantiasa memilki nilai positif dan tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain.

Shaum pun memberikan pendidikan agar terbentuknya akhlakul karimah seperti keikhlasan dalam menjalankan semua peribadatan shaum, kejujuran untuk tidak melanggar aturan atau hukum shaum yang telah ditentukan meskipun tidak ada orang yang memperhatikannya, kepedulian kepada orang lain terutama kaum dhuafa atau fakir miskin. Dengan berakhlakul karimah ini akan dapat mengembangkan potensi pengetahuan, sikap, dam keterampilan yang ada pada dirinya sehingga menjadi muslim yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan masyarakat. Potensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki sebagai hasil dari shaum ini diantara untuk meningkatnya produktifitas hidup. Shaum bulan Ramadhan memberikan pendidikan agar senantiasa menjaga produktiftas hidup sehingga terus berkembang tidak menurun atau melemah karena alasan lapar atau dahaga. Dalam sejarah banyak peristiwa yang menunjukkan justeru pada bulan Ramadhan itu dengan diraihnya prestasi yang gemilang. Misalnya penaklukan Kota Mekah pada tahun ke 8 Hijriah, Perang Tabuk pada tahun ke 9 Hijriah, Penaklukan Andalusia pada taun ke 92 Hijriah, dan yang fenomenal adalah Perang Badar.

Pada tanggal 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah Rasulullah saw. bersama para sahabat berhasil memenangkan perjuangan dalam upaya menegakkan Islam di muka bumi ini, yaitu berhasil memenangkan Perang Badar yang sangat berat. Padahal pada saat perang itu Rasulullah saw. hanya bersama 313 orang sahabat dari kaum Muhajirin dan Anshar. Jumlah pasukan yang sedikit dan dengan perlengkapan perang yang minim ini harus berhadapan dengan pasukan bangsa Quraisy yang berjumlah tiga kali lipat sekitar 1000 orang dan dengan peralatan perang yang lengkap. Perbedaan jumlah pasukan dan perlengkapan perang ini ternyata tidak menjadikan halangan bagi Rasulullah saw. dan para sahabat untuk memenangkan perang itu dengan sukses.

Kemenangan ini terjadi diantaranya karena perjuangan itu dilakukan penuh dengan semangat dan jiwa jihad serta tidak menurunkan produktivitasnya sebagai prajurit yang saat itu sedang shaum Ramadhan. Rasulullah saw. berhasil menanamkan ruh jihad pada para sahabat pada bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kemenangan ini menjadi semangat dakwah bagi kaum muslimin untuk selalu berani, taat, dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan dan kebenaran. Pasca perang Badar ini pun Rasulullah saw tetap memperhatikan pendidikan dengan membebaskan tawanan perang Badar tersebut, namun sebelumnya mereka harus mengajarkan baca tulis kepada penduduk Madinah. Perang Badar di dalam Al Quran disebut dengan yaumal furqon (hari pemisah haq dan bathil) yaitu dengan bertemunya dua pasukan di medan perang sebagaimana tercantum dalam QS. Al Anfaal ayat 41,”… Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqon, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.” Berdasarkan ayat ini pula para ulama sepakat bahwa Al Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Dari perjuangan dan kemenangan dalam berbagai peperangan termasuk perang Badar ini memberikan pendidikan bahwa shaum tidak menurunkan semangat berjuang atau produktifitas kerja. Malahan sebalikya mampu menjadikan dorongan untuk selalu berjuang atau berjihad memberikan hasil yang terbaik dengan landasan semangat keislaman.

Aktivitas Rasulullah saw. dan para sahabat pada bulan Ramadhan tetap semangat berdakwah ke berbagai tempat menyampaikan risalah Islam, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah pada yang munkar. Ma’ruf adalah perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah swt. Sedangkan munkar adalah perbuatan yang menjauhkan kita dari Allah swt. Ramadahan adalah bulan untuk lebih mengakrabkan diri dengan Al Quran dengan membaca, mengkaji dan memahami serta mengamalkan isi kandungan yang ada di dalamnya. Untuk itu Sebagai orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan sudah sepatutnya kita renungkan QS. Ali Imran ayat 110,”Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh kemakrufan dan mencegah kemunkaran, serta beriman kepada Allah swt.” Di dalam QS Ali Imran ayat 4,”Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini mengandung arti bahwa hendaknya ada sebagian umat manusia mengajak kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar sesuai dengan kemauannya.

Islam mengajarkan kepada kita bukan hanya ajaran-ajaran yang khusus diperuntukan bagi umat Islam saja, tetapi juga mengajarkan berbagai ajaran tentang nilai-nilai yang bersifat universal. Diantara ajaran-ajaran Islam yang mempuyai nilai universal adalah ajaran yang menekankan pentingnya setiap muslim agar dia memberi manfaat kepada orang lain. Dalam ajaran Islam, salah satu indikator keunggulan kualitas seseorang adalah seberapa besar dia mampu memberi manfaat kepada orang lain. Artinya semakin besar seorang mampu memberi manfaat kepada orang lain, maka makin baik atau makin unggul pula kualitas keberagamaannya. Rasulullah saw. bersabda,”Sebaik-baik manusia (muslim) adalah yang paling (banyak) memberi manfaat kepada manusia”. Di dalam Al Quran surat An Nahl ayat 97, Allah swt berfirman,”Barangsiapa berbuat kebaikan dari laki-laki ataupun perempuan dan dia mukmin niscaya Kami akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik dan Kami memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

Read More »
Jumat, Agustus 12, 2011 | 0 komentar

Makna Puasa Dalam Rumah Tangga


Oleh : Joko Kussuharto - Para Pembaca,...Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Tidak diragukan lagi bahwa manusiayang memiliki fitrah yang suci pasti menci-citakan kebahagiaan dan ketentraman dalam rumah tangganya serta kehidupannya. Terkhusus di zaman sekarang yang penuh fitnah. Sesuatu yang diharamkan Allah sianggap sebagai sesuatu yang halal .perbuatan yang melanggar norma agama dianggap sebagai hal yang wajar dan lumrah. Masyarakat pun semakin jauh dari bimbingan Allah dan rasul-Nya.Sungguh dalam kondisi semacam ini seorang hamba sangat butuh pertolongan_Nya yakni Allah SWT......

Saudaraku se-iman...Maaf...hari ini ku mengisi Kultum yang kosong menggantikan posisi jadwal rekan yang sibuk berhalangan.....Sebagai saudara sudah merupakan kewajiban untuk membantunya....Saudara ku.... Merupakan ditrah yang telah Allah jadikan pada diri manusia bahwa kaum pria memiliki ketertarikan kepada wanita dan juga sebaliknya.

Allah dalam Al-Qur'an menyatakan (Artinya)" Dijadikan indah pada (Pandangan) manusia kecintaan kepada sesuatu yang diingini,yaitu :Wanita-wanita,anak anak,harta yang banyak dari jenisnya emas,perak,kuda pilihan,binatang-binatang ternak dan sawah ladang.Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baiok (Surga). " (ALI IMRAN : 14)

Sehingga Allah dengan hikmah-Nya memiliki syari'at yang mengatur hubungan keduanya (Laki-Wanita) melalui lembaga yang disebut : PERKAWINAN Dalam sebuah hadist diriwayatkan dari Abu Hurairah.Rasulullah bersabda : " Tiga golongan yang Allah PASTI akan menolong mereka: Budak yang hendak menebus dirinya, Seorang yang menikah dengan tujuan menjaga kehormatannya dan seorang yang berjihad di jalan Allah.".....

Saudaraku para pemuda.....sengaja ku menulis di KULTUM ini dengan nuansa berbeda sebab, saya hanya mewakili rekan yang berhalangan namun ada relevansinya dengan puasa, Ini merupakan solusi bagi pemuda yang belum mampu untuk menikah agar ia berpuasa, Dengan berpuasa ia lebih mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya,lebih menjaga kehormatan dan pandangannya dari perkara yang diharamkan bukan dengan cara yang tidak syar'i seperti onani karena yang demikian itu (Ada) yang mengharamkan namun (Ada) sbagian Ulama yang memakruhkan....

Para pembaca...dengan ini marilah kita bersama (Khususnya diri saya sendiri), berusaha menjadikan petunjuk Allah dan bimbingan Rasulullah,SAW. agar kita bahagia dan selamat dunia dan Akherat. Dengan mengamalkannya hidup kita akan senantiasa terjaga dan diliputi ridha' dari Allah SWT.  Wallahua'lam bishshawab.

Read More »
Kamis, Agustus 11, 2011 | 0 komentar

10 Tanda Ibadah Ramadhan Diterima Allah

Oleh : Bahrudin Siregar - Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarganya, para sahabatnya dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Para pembaca KARak’S Besoeki yang dirahmati Allah Ta’alaa, wabilkhusus Guru Spirituil saya Ke No’e yang selalu saya ta’dzimi, perkenankanlah saya ingin menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan ibadah Puasa Ramadhan, yaitu sepuluh tanda ibadah Ramadhan diterima oleh Allah SWT.
Sepuluh Tanda Bila Ibadah Bulan Ramadhan Diterima Allah SWT

Para pembaca KARak’S Besoeki yang dirahmati Allah, jika seorang hamba mengetahui bahwa kebanyakan dari amalan bisa ditolak dari pelakunya karena banyak sebab, maka yang terpenting adalah mengetahui sebab-sebab diterimanya amalan, jika dia menemukannya dalam dirinya maka hendaklah dia memuji Allah Ta’alaa, dan beramal dengan teguh dan konsisten diatasnya, namun jika tidak menemukannya maka hendaklah hal pertama yang diperhatikannya dari sekarang adalah: mengamalkannya dengan sungguh-sungguh serta ikhlas karena Allah Ta’ala semata.

Maka apakah sebab-sebab dan tanda-tanda diterimanya amalan?

1- Tidak kembali berbuat dosa setelah melakukan ketaatan:

Karena kembali kepada dosa merupakan tanda kebinasaan dan kerugian,
Kebanyakan manusia bertaubat sedangkan dia selalu mengatakan: sesungguhnya aku tahu bahwa aku akan kembali...jangan katakan seperti itu...tetapi katakan: Insya Allah saya tidak akan kembali. Dan memohon pertolongan kepada Allah dan berazam untuk tidak kembali lagi.

2-Takut jika amalannya tidak diterima:
Dan seorang mukmin walaupun bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, dan mendekatkan diri kepada Allah dengan bermacam taqarrub, namun dia merasa sangat kasihan terhadap dirinya, dia takut amalannya tidak diterima.

Meskipun dia bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ibadah-ibadah mulia ini namun dia tidak mengandalkan usahanya maupun menunjukkannya kepada Rabbnya, tapi dia meremehkan amalannya, dan menampakkan kefakirannya yang sempurna kepada ampunan Allah dan rahmat-Nya, dan hatinya penuh dengan rasa takut jika amalannya ditolak, Waliyadhu billah, dia memohon kepada-Nya supaya amalannya diterima.

3- Diberikan taufik melaksanakan amal shalih sesudahnya:
Sesungguhnya tanda diterimanya ketaatan seorang hamba bahwa dia diberikan taufik untuk ketaatan sesudahnya, dan diantara tanda diterimanya kebaikan: mengerjakan kebaikan sesudahnya, karena kebaikan tersebut berkata: kebaikan lagi...kebaikan lagi. Dan ini termasuk rahmat Allah Ta’alaa dan karunia-Nya, bahwa Dia memuliakan hamba-Nya jika telah berbuat kebaikan, dan mengikhlaskannya kepada Allah maka Allah membukakan untuknya pintu kebaikan lain, supaya lebih dekat kepada-Nya.

Maka amal shalih ibarat pohon yang baik, perlu disiram dan dipelihara, supaya tumbuh dan kuat, dan memberikan buahnya, dan hal terpenting yang kita perlukan adalah selalu menjaga amalan-amalan baik yang telah kita kerjakan, dan memeliharanya, dan menambahnya sedikit demi sedikit, inilah makna istiqamah yang sebenarnya.

4- Menganggap remeh amalannya serta tidak ujub dan tertipu dengannya:
Sesungguhnya hamba yang beriman berapa banyakpun dia beramal shalih, namun seluruh amalnya tidak menjadikannya bersyukur atas kenikmatan itu seperti kenikmatan pada jasadnya pendengaran, penglihatan, atau lisan dan lainnya, dan tidak merasa telah menunaikan hak Allah Ta’alaa, karena

hak Allah diluar gambaran kita, oleh karena itu termasuk sifat orang-orang yang ikhlas mereka menganggap kecil amalan mereka, sehingga mereka tidak takjub dengannya, dan tidak terkena penyakit ghurur yang akan menghapus pahalanya dan membuatnya merasa cukup dan malas untuk beramal shalih lagi.

Diantara hal yang dapat membantu kita menganggap kecil amalan kita adalah: mengenal Allah Ta’alaa, melihat nikmat-nikmat-Nya, dan mengingat dosa-dosa dan kelalaiannya.

5- Mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan:
Termasuk tanda diterimanya amalan, Allah memberikan kecintaan dalam hatimu terhadap ketaatan, sehingga engkau mencintainya, tenang dan tenteram kepadanya. Dan termsuk tanda diterimanya amalan adalah engkau membenci maksiat dan mendekatinya dan berdoa kepada Allah supaya menjauhkanmu darinya.

6- Berharap dan banyak berdoa:
Sesungguhnya takut kepada Allah saja tidak cukup, karena harus dengan pasangannya yaitu berharap, karena takut tanpa berharap menyebabkan putus asa dari rahmat Allah, sedangkan berharap saja tanpa takut menyebabkan rasa aman dari siksa Allah dan semuanya perkara yang tercela yang merusak akidah seseorang dan ibadahnya.

Dan berharap diterimanya amalan disertai rasa takut jika amalannya ditolak menjadikan manusia tawadhu dan khusyu kepada Allah Ta’alaa, sehingga bertambah imannya.

Dan apabila rasa berharap telah terwujud maka manusia mengangkat kedua tangannya ke langit memohon kepada Allah supaya amalannya diterima, karena hanya Dia saja yang Kuasa melakukannya .

7- Diberi kemudahan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat:
Subhanallah, jika Allah menerima ketaatanmu Dia memudahkanmu untuk melakukan amalan lain yang sebelumnya tidak dalam persangkaanmu, bahkan Dia menjauhkanmu dari maksiat meskipun engkau dekat dengannya.

8- Mencintai orang-orang shalih dan membenci pelaku maksiat:

Termasuk tanda diterimanya ketaatan, Allah memberikan hatimu rasa cinta kepada orang-orang shalih para pelaku ketaatan dan memberikan hatimu kebencian kepada para pelaku kerusakan dan kemasiatan.

9- Banyak beristighfar:
Kalau kita merenungkan kebanyakan ibadah dan ketaatan maka hendaklah menutupnya dengan istighfar karena sejauh manapun manusia bersungguh-sungguh menyempurnakan amalannya pasti ada kekurangan dan kelalaian .

10- Konsisten dalam mengerjakan amal shalih:
Diantara petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah konsisten dalam amal shalih .
Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.
Mudah-mudahan Allah Ta’alaa menerima semua amalan kita terutama puasa, qiyamul lail, tilawah, sadaqah kita di bulan Ramadhan.
“Ya Allah, terimalah puasa kami, ampuni segala kesalahan kami, lindungi kami semua dari siksa api neraka, bimbinglah selalu agar kami berada di jalan yang lurus dan senantiasa istiqomah di sisa hidup yang tak lama ini.” Amin.

Demikian KULTUM hari ini saya sampaikan, mudah – mudahan ada guna dan manfaatnya, mohon maaf bila ada tutur kata yang salah dan kurang berkenan.

Read More »
Selasa, Agustus 09, 2011 | 0 komentar

Buah Kurma Sang Primadona Di Bulan Ramadhan

Oleh : Joko Kussuharto

Ass.Wr.Wb.......Rasulullah,SAW​.
Bersabda : "Apabila seseorang di antara kamu berpuasa maka berbukalah dengan Kurma apabila tidak mendapatkannya maka dengan air.Sesungguhnya air itu bersih." Dari Hadist di atas, diketemukan hikmahnya,yakni : Bahwa,sebenarny...a perasaan lapar itu bukanlah karena kosongnya perut dari makanan tetapi karena kurangnya Zat gula di dalam darah.Terbukti,jika kita makan kurma yang manis sebelum menyantap hidangan maka kita akan kehilangan nafsu makan walau perut kosong.Hal ini disebabkan oleh kadar gula yang kita makan akan terserp dengan mudah dalam darah maka bertambahlah kadar gulanya sehingga menimbulkan perasaan kenyang.

Demikian sekilas tentang hikmah puasa di minggu ke dua hari pertama di acara Kultum KARak'S besuki.Semoga bemanfaat...


Kaso'on. Wassalam,Wr.Wb.

Read More »
Senin, Agustus 08, 2011 | 0 komentar

Sikap Dermawan Di Bulan Ramadhan

Oleh : Fathur 'Onk' Ar Rahman - Sifat dermawan adalah sifat yang sangat terpuji lagi mulia. Cukup lah bagi kita untuk memahaminya, bahwa Allah swt telah menasbihkan diriNya dengan sifat "al-Karim", Yang Maha Dermawan.

Seorang yang dermawan akan ditutupi oleh Allah aib dan keburukannya. Bahkan kebaikan demi kabaikan akan diperolehnya. Fakta yang sering kita jumpai "Seorang dermawan, apabila engkau memujinya, maka semua orang akan ikut memujinya, namun apabila engkau mencelanya, akan kau dapati bahwa hanya engkau sendiri yang mencelanya".

Dermawan bisa terwujud dalam bentuk: uluran tangan untuk memberi sedekah, infak, zakat, dll. Derwaman merupakan cerminan rasa solidaritas kemanusiaan dari seorang hamba Allah Yang Maha Kasih kepada hamba lainnya yang memerlukan.

Tingkat tertinggi dari kedermawanan adalah "Iitsar", yaitu memberikan sesuatu kepada orang yang lebih memerlukan, padahal ia sendiri masih memerlukannya. Inilah yang digambarkan Allah swt dalah surat al Hashr ayat 9 dalam menceritakan kedemawanan kaum Anshar (penduduk Madinah) kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah untuk berhijrah.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”

Kedermawanan seseorang akan menunjukkan keberanian dalam dirinya, karena ia tidak merasa takut akan kehilangan apa yang ia berikan kepada orang lain. Kedermawanan juga mencerminkan iman yang kuat dan kokoh, karena ia yakin bahwa apa yang diberikannya kepada orang lain niscaya akan mendapatkan ganti dari Allah. Inilah apa yang telah dijanjikan oleh Al Qur'an:

"Dan apa yang kalian infakkan, maka Dia (Allah) pasti menggantinya dan Dialah pemberi rizki yang sebaik-baiknya" (Q.S. Saba' : 34). Dalam sebuah hadis Rasulullah juga bersabda "Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan sorga. Sedangkan orang bakhil dan kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dengan Neraka".

Kedermawan yang dianjurkan adalah yang disertai keikhlasan untuk membantu saudara yang memerlukan dan demi mencari keridlaan Allah. Inilah yang akan mendapatkan pahala berlipat ganda dari Allah swt.

"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah, adalah sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir dan setiap butir membuahkan lagi 100 biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang dikehendakiNya. Allah maha luas karuniaNya dan lagi maha mengetahui" (al-Baqarah:261).

Di bulan Ramadan ini, patut kita menggugah diri, dengan kacamata kedermawanan untuk menaruh perhatian kepada saudara-saudara kita yang kebetulan bernasib kurang baik. Saudara-saudara kita: yang kelaparan, yang sakit, yang putus sekolah, yang kehilangan pekerjaan dan yang terlunta-lunta di pengungsian..

Di bulan Ramadan ini, kita selayaknya juga meningkatkan rasa kedermawanan kita sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah. Kedermawanan beliau ketika memasuki bulan Ramadan diibaratkan melebihi kedermawanan hembusan angin yang membawa hujan, kesejukan dan kehidupan bagi alam semesta. (H.R. Muslim).

Kacepot ngangguy gule bheto... salah lopot kaule jhek bhesto

Read More »
Minggu, Agustus 07, 2011 | 0 komentar